Mendengarkan Keluhan Konsumen Paling Mendasar

Hari ini aku mendapatkan pelajaran baru, tentang mendengarkan keluhan konsumen, yah sebenarnya gak baru-baru amat. Mungkin kalian sudah baca tempe penyet cak bendol surabaya, yang aku tulis pada artikel sebelumnya. Dan pada hari ini, tepatnya malam ini aku sengaja mampir ke warung tempe penyet itu, sekedar ngobrol sama teman-teman karena memang lokasinya bersebelahan dengan warung kopi favorit, yang tiap harinya pasti ada saja obrolan seputar ngentube, hehe, aneh.

Pada beberapa minggu yang lalu aku komplain ke Cak Bendol, lantaran salah satu makanannya ada yang sedikit tengik / basi. Tapi, karena aku orang Indonesia dan beretika, maka aku pun menyampaikan dengan cara yang baik dan berusaha tidak menyinggung perasaannya. Yah, hari ini Cak Bendol mengatakan jika dia komplain ke salah satu pemasok ikan yang pada minggu sebelumnya aku katakan tengik. Wah, cukup kaget juga ternyata Cak Bendol masih peduli dengan keluhan pelangganya, dan dia mengatakan berhenti membeli ikan di tempat itu, dan mencari tempat lain yang menjual ikan asli segar. Dan aku sangat puas dengan respon Cak Bendol dengan komplain yang aku katakan beberapa minggu yang lalu.

Dari sini kita bisa memahami melalui contoh kasus yang sederhana, dan kebetulan aku alami sendiri, jika kita mau mendengarkan keluhan pelanggan / konsumen, dan kemudian menindak lanjuti keluhan itu, itu sangat menyenangkan hati konsumen. Dan artinya akan tetap menjaga loyalitas konsumen kita. Wah, hari ini dapat pelajaran baru lagi.