Tujuh Orang Berebut Satu Piring Emas

Seringkali saya mendengar uneg-uneg dari beberapa orang teman, tentang padatnya Ibu kota negara. Jakarta, semua orang meyakini itulah surga bagi pencari uang dan kesuksesan. Katanya, disana kita bisa dengan mudah mendapatkan uang yang banyak, meraih kesuksesan dengan cepat, mudah menjadi terkenal. Ya, itulah keyakinan bagi sebagian besar bangsa ini.

Ada sejuta orang dengan keahlian hebat, yang datang jauh-jauh dari daerahnya. Ada sejuta orang tanpa keahlian yang mumpuni, yang datang jauh-jauh dari daerahnya. Ada yang pada akhirnya jadi pengemis, pencopet, gelandangan, perampok, atau bahkan pembunuh. Akan tetapi, banyak juga yang sukses merealisasikan impian-impian besarnya, mulai dari menjadi actrist, musisi, seniman, desainer, sutradara, fotografer, pengusaha, pebisnis, dan lain sebagainya. Yah, mereka beramai-ramai memajukan dan membangun ibu kota negara Indonesia. Lalu bagaimana dengan nasib daerah asalnya, jika semua SDM berkualitas melarikan diri ke Jakarta? Ya, saya yakin anda sudah tahu pasti jawabannya.

Peluang-peluang emas itu ada di Jakarta, dan memang itulah kenyataannya. Baik pemerintah ataupun pengusaha, berkoar-koar mengajak bangsa ini memajukan daerah tertinggal, meskipun pada kenyataannya mereka yang berada disuatu daerah sangat jarang diberikan kesempatan emas. Mereka yang berada didaerah, hanya bisa mendapatkan penghasilan ataupun penghargaan yang pas-pasan, mereka yang berada didaerah tidak dipercaya mengerjakan proyek-proyek yang berskala nasional. Lalu apakah salah jika ada begitu banyak SDM yang berkeahlian tinggi melarikan diri ke Jakarta? Sebab, setelah mereka sudah menginjakkan kakinya di ibu kota negara itu, nasib mereka banyak yang berubah drastis, dari “hancur lebur” menjadi “agung”.

Namun, jika kita berpikir realistis, memang disana ada sejuta peluang, sejuta kesempatan, sejuta kesenangan. Akan tetapi jumlah pendatang yang menjadi pemburu peluang, kesempatan dan kesuksesan itu tidak hanya sejuta, dan saya yakin berkali-kali lipat dari itu. Ibarat sejuta piring emas yang diburu tujuh juta orang, dan persatu piring emas direbut tujuh orang. Ya, kejam, tragis, dan penuh dengan susah payah. Dan bahkan sebagian besar teman-teman saya yang dilahirkan dan besar di Jakarta, malah memilih melarikan dari dari ibu kota negara tersebut, dengan alasan kemacetan yang super parah, banyak orang yang sangat mudah menjadi stress, dan tidak ada kenyamanan didalam menjalani hidup, meskipun sangat mudah mendapatkan uang berlimpah di kota itu.