Kamu Model, Tapi Mirip Penjual Jamu Gendong

Sadar ataupun tidak sadar, terkadang kita seringkali berpikir “Yang penting bagus, kualitas belakangan saja”. Sebagian besar dari bangsa ini lebih mementingkan penampilan, dan mengesampingkan kualitas. Yang penting bagus, keren, mirip merk ternama, dan dipamerkan kemana-mana. Mungkin ini adalah budaya baru bangsa ini, atau mungkin ciri khas negara yang sedang berkembang.

Jika kita ambil sisi positifnya, mayoritas bangsa ini sangat mengedepankan desain yang bagus, yang artinya ini adalah peluang emas bagi semua desainer dinegeri ini, karena ada begitu banyak produk ataupun merk yang belum tersentuh oleh keagungan desain. Akan tetapi, permasalahannya adalah tingkat kesadaran dari para produsen itu sendiri, mau memenuhi harapan, tuntutan, dan keinginan pasar atau tidak? Sebab, berdasarkan dari pengamatan saya, mereka malas atau bahkan tidak mau mengeluarkan sejumlah uang, untuk memperbaiki ataupun merubah desain dari produk, merk, ataupun periklanannya. Yang penting eksis, laku, dan dikenal publik, mungkin itulah tujuan utama mereka. Ibarat pemasar yang mempunyai kemampuan komunikasi yang bagus dan menggoda, namun berpenampilan seperti (maaf) tukang becak ataupun kuli bangunan. Produk ataupun jasa yang mereka jual memang laku, namun pasti jauh lebih laku jika berpenampilan yang bagus, rapi, wangi, dan menarik perhatian targetnya. Seperti itulah kita juga harus memperlakukan produk ataupun brand yang sedang kita kelola, kembangkan, dan yang kita publikasikan. Mahal itu pasti, karena itu bagian dari resiko untuk membangun dan mengagungkan merk / jasa yang kita miliki.

Momen emas seperti ini sangat sayang jika tidak dimanfaatkan dengan baik oleh para produsen ataupun penyedia jasa. Saran saya, segeralah perbaiki penampilan produk, merk, ataupun jasa kalian, demi membantu meningkatkan pemasaran anda. Desain yang bagus pada produk/brand/jasa, itu ibarat “Silent Sales Person”.